Kisah Pilu Cahaya, Penderita Bocor Jantung Sejak Lahir, Tidak Ada Biaya Untuk Pengobatan

waktu baca 6 menit
Selasa, 5 Agu 2025 13:54 redaksi

FRASALOCAL||ACEH BARAT- Di sebuah rumah kecil berdinding semen kasar dan berjendela kayu tertutup di pelosok Aceh Barat, hidup seorang balita bernama Cahaya Putri Kemuning anak dari Ibu Suprenti arianti dan Bapak Herman yang tinggal di Desa Pasi Jeut Kecamatan Woyla Barat, lahir Di Puskesmas Pasi Mali pada 1 Oktober 2023 mengalami derita bocor jantung, Selasa (5/8/2025).

FOTO: Keadaan Rumah Dek Cahaya di Desa Pasi Jeut, Kecamatan Woyla Barat, Kabupaten Aceh Barat.

Cahaya kini berusia 22 bulan, namun, tak seperti anak-anak seusianya yang mulai berlari dan memanggil orang tuanya dengan tawa, Cahaya masih tergeletak lemah, belum mampu duduk apalagi berdiri.

Meski begitu, di wajah mungilnya, selalu terselip senyum. Senyum yang mengabarkan harapan-harapan yang sedang diuji oleh keterbatasan, ketidak mampuannya, dan waktu.

Di umur 2 bulan cahaya mengalami penyakit Patent Ductus Arteriosus (PDA) merupakan jenis penyakit kelainan jantung bawaan yang biasanya dialami oleh bayi prematur, bahkan cahaya juga mengalami penyakit Down syndrome yakni penyakit dimana kelainan genetik yang menyebabkan penderitanya memiliki tingkat kecerdasan rendah dan kelainan fisik yang khas. Gejala down syndrome bisa ringan atau berat, bahkan cahaya mengalami bocor jantung.

Kata Ibunda Cahaya, setelah melahirkan cahaya memiliki berat badan 3 Kg, di bulan pertama berat badan Cahaya sangat menurun drastis.

“Dibulan kedua kami sudah mulai khawatir karena adek Cahaya mengalami demam dan sesak nafas, kemudian kami bergegas membawa cahaya ke Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien (RSUD CND),”Sebut Ibunda Cahaya sambil mengingat kejadian dahulu pada saat pertama kali anaknya dibawa kerumah sakit.

Ibunda Cahaya sebut, pada saat tiba kerumah sakit RSUD Cut Nyak Dhien Cahaya lansung ditangani oleh dokter spesialis, setelah di periksa cahaya mengalami bocor jantung kemudian cahaya di rujuk kerumah sakit Zainal Abidin, Banda Aceh.

“Setelah dirujuk anak kami mengalami penyakit PDA atau bocor jantung Cahaya juga Don syndrom, kami mulai melakukan pengobatan terhadap Cahaya sejak usia cahaya usia 2 bulan, hingga saat ini cahaya tak kunjung juga sembuh, “sebut ibunya cahaya seiring pecah suasana sunyi dengan tangisan terisak-isak karena mengingat perjuangan untuk kesembuhan anaknya yang belum usai.

Cahaya memiliki dua bersaudara yakni kakak bernama Fitriani (27) dan Abang nya bernama Rudi Mahendra (25), meski kakaknya bukan satu ibu kandung tapi kasih sayang kakak sama dengan kasih sayang Abang nya yang tak terhingga kepada adiknya cahaya.

“Kakak Cahaya 1 Ayah lain ibu, meski demikian mereka berdua sangat sayang kepada cahaya,”ucap ibu cahaya dengan tersedu-sedu sesekali mengusap air mata sambil meratapi cobaan yang akan dilaluinya dengan harapan anaknya akan segera pulih.

Sementara, Bapak Cahaya kesehariannya hanyalah pekerja serabutan, dimana pendapatan keseharian hanya Rp. 80 ribu hingga Rp. 100 ribu.

“Ayah Cahaya hanya pekerja serabutan dengan pendapatan tidak menentu jika ada di suruh orang ada rezeki, sedangkan saya hanya ibu rumah tangga,”sebut Ibunda Cahaya, sesekali rintisan tangisan terdengar agak samar, hal itu dikarenakan ratapan kehidupan yang di lalui penuh lika liku coban yang di hadapi pasangan paruh baya tersebut.

FOTO: Ibu Cahaya (Suprenti Arianti) memegang tiket pesawat hasil dari donasi para dermawan untuk pengobatan lebih lanjut ke ibu kota Jakarta.

Perjalanan Panjang Mencari Kesembuhan

Kemudian, tidak disangka-sangka banyak orang yang memotivasi bapak dan Ibu Cahaya untuk terus berjuang untuk kesembuhan sang buah hati,

bahkan sebahgian orang baik ikut membantu mereka dalam bentuk donasi, pembiayaan berobat hingga biaya transportasi mereka untuk dek Cahaya ke ibu kota Jakarta.

Namun, Cahaya perlu pengobatan secara intensif, sehingga sang ibunda dan Ayah dengan hati yang kuat untuk menahan kesabaran demi kesembuhan anaknya. Dengan bekal seadanya dan keberanian besar, mereka tinggalkan kampung halaman demi memeriksakan putri kecil mereka di ibu kota.

“Alhamdulillah untuk tiket pesawat kami dibantu belikan oleh orang baik yang selama ini telah membantu dek Cahaya, sehingga kita nekat untuk pergi kerumah sakit Harapan Kita yang berada di ibu kota,”ungkap Ibunda Cahaya.

FOTO: Ibunda Cahaya sesampai ke Jakarta lansung membawa sang buah hati untuk melakukan Observasi.

Sesampai, di Rumah Sakit Harapan Kita, Ayah dan ibunda Cahaya lansung bergegas menuju rumah sakit Harapan Kita dan langsung menjalani observasi.

“Baru saja di observasi bang, tiga jam mungkin kelelahan dek Cahaya,” ucap sang ibunda dengan suara parau dalam rekaman suara yang dikirim ke FRASALOCAL. “Sekarang sudah mendingan dikit.”tambahnya

Observasi itu bukan yang pertama, dan sepertinya bukan yang terakhir. Pemeriksaan demi pemeriksaan dijalani tapi BPJS hanya bisa digunakan seminggu sekali. Waktu terasa kejam, sementara pengobatan tidak bisa menunggu.

Meski terkendala dengan transportasi yang begitu mahal dari rumah singgah menuju kerumah sakit Harapan Kita, terpaksa Kedu orangtuanya menahan lapar demi kesembuhan anak tercintanya.

“Saya pada hari Senin (4/8/2025) kan saya kerumah sakit  dengan Grab, dari rumah singgah ke rumah sakit ongkosnya mahal kali Rp 90 ribu bolak balik sudah 180 ribu sekali bawak dek Cahaya, di tambah lagi susu cahaya Rp 110 ribu, saya betul-betul kaget saat itu, karena saya tidak ada pegangan, Alhamdulillah nya tempat tinggal kami gratis karena di rumah singgah untuk makan kami berdua sama suami sudah aman, tetapi untuk adek Cahaya kami betul-betul harus hemat di Jakarta ini,”keluh Ibundanya cahaya.

FOTO: Keadaan dapur rumah bapak Herman dan Ibu Suprenti Arianti orang tua dari dek Cahaya.

Senyuman Cahaya Lahir di Rumah Kecil

Keluarga kecil ini berasal dari sebuah rumah sederhana-dindingnya retak, jendelanya lapuk, dan pintunya selalu terbuka, seakan menunggu keajaiban masuk. Foto rumah yang mereka kirimkan memperlihatkan segalanya ketidakmampuan yang bukan dibuat-buat, tapi diwariskan oleh keadaan.

FOTO: Dek Cahaya tersenyum bahagia pada saat dirinya sampai di rumah singgah Jakarta.

Di sinilah Cahaya pertama kali belajar tersenyum. Di rumah inilah dia mulai mengenal dunia, sebelum kemudian dunia mengujinya terlalu cepat, terlalu keras.

FOTO: Ibunda cahaya pada saat mengantri di Rumah sakit Harapan Kita Jakarta.

Satu Rekaman, Seribu Air Mata

Dalam pesan suara yang dikirim ke redaksi, suara sang ibu terdengar nyaris habis. Lirih, pelan, namun sarat cinta dan ketabahan.

“Tolong bantu kami bang, dana kami sangat terbatas, Cahaya masih dalam tahap observasi, kami nggak ingin kecewakan orang-orang baik yang bantu,” katanya dalam rekaman suara yang dikirim ke redaksi.

Bukan tangisan keras yang terdengar. Bukan ratapan panjang. Tapi keteguhan seorang ibu yang telah melewati cukup banyak kesedihan, dan kini tinggal menggenggam sisa-sisa harapan.

FOTO: Cahaya bersama Ayahanda tercinta, masih tersenyum bersama meski sakit yang di derita olehnya masih mengguruti tubuhnya.

Senyum Itu Belum Padam

Cahaya masih tersenyum. Di atas lantai rumah singgah di Jakarta, dia tengkurap dengan baju kecil bergambar. Tertawa, meski tubuhnya belum kuat. Tertawa, meski orang tuanya menahan tangis.

Nama “Cahaya” bukan kebetulan. Ia adalah doa, harapan, dan peringatan bahwa meski dunia kelam, selalu ada sinar kecil yang bisa jadi terang — asalkan tidak dibiarkan padam.

 

Kita Bisa Jadi Bagian dari Cahaya Itu

Keluarga Cahaya tidak meminta banyak. Hanya sedikit bantuan. Untuk transportasi ke rumah sakit. Untuk obat-obatan tambahan. Untuk bertahan di Jakarta selama pengobatan berlangsung.

Mungkin, dalam dunia yang penuh hiruk pikuk ini, Cahaya sedang mengetuk hati kita semua, bukan dengan teriakan, tapi dengan senyum kecilnya yang tak pernah menyerah.

Bagi para dermawan yang ingin membantu adek Cahaya dalam perjuangan kesembuhannya sudi kiranya menyisihkan rezeki kita sedikit untuk kebutuhan sehari-hari dalam pengobatan dek Cahaya.

Penulis: Alfianpasee

Nomor Rekening BSI: 7183150787

Atas nama Ayahanda Dek Cahaya Herman.

Nomor Kontak FRASAPEDULI: 0852 6153 1717

Nomor Kontak Ibu Suprenti Arianti Ibunda Cahaya: 0813 9611 1044

LAINNYA