FRASALOCAL || ACEH BARAT – Pemadaman listrik (black out) berkepanjangan yang terjadi di Aceh Barat menimbulkan kerugian besar bagi para pengusaha tambak udang. Mereka harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengoperasikan genset, dengan kebutuhan bahan bakar yang mencapai puluhan juta rupiah setiap harinya.
Kondisi ini membuat para petambak kewalahan karena biaya produksi melonjak tajam dan tidak sebanding dengan hasil panen. Situasi semakin parah ketika sebagian mesin cadangan (genset) mengalami kerusakan akibat arus listrik yang hidup-mati secara terus-menerus.
“Pemadaman listrik ini sangat merugikan kami, khususnya petambak udang di Aceh Barat,” ujar Deyan Moure, Kamis (02/10/2025).
Ia menambahkan, dampak paling fatal adalah kematian udang karena kekurangan oksigen. Dalam beberapa kasus, kerugian bisa mencapai Rp500 juta hanya untuk satu tambak.
“Bayangkan berapa besar total kerugian seluruh petambak, jumlahnya sudah miliaran rupiah,” jelasnya.
Menurut Deyan, udang hanya mampu bertahan sekitar dua jam tanpa suplai oksigen, sementara pembeli membutuhkan waktu hingga dua hari untuk tiba di lokasi tambak.
“Udang yang mati tidak bisa dijual, semuanya terpaksa dikubur,” katanya.
Atas kondisi ini, para pengusaha tambak menuntut pihak PLN bertanggung jawab atas kerugian yang terjadi.
“Kami mendesak pihak PLN bertanggung jawab sesuai ketentuan Undang-Undang yang berlaku,” tutup Deyan Moure.