Literasi Dari Akar Sosial, Refleksi Atas Rakornis Perpustakaan 2026

waktu baca 3 menit
Rabu, 22 Apr 2026 15:39 redaksi

FRASALOCAL||OPINI- Penunjukan Aceh Barat sebagai tuan rumah Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Perpustakaan dan Kearsipan 2026 merupakan langkah strategis dalam memperkuat sinergi kebijakan literasi di tingkat daerah.

Forum semacam ini penting sebagai ruang konsolidasi gagasan, penyelarasan program, serta evaluasi capaian yang telah berjalan.

Namun demikian, di tengah optimisme tersebut, penting kiranya menghadirkan refleksi yang konstruktif, sejauh mana berbagai kebijakan literasi yang telah dirancang benar-benar bertransformasi menjadi praktik sosial yang hidup di tengah masyarakat?.

Antara Kebijakan dan Praktik Sosial

Selama ini, penguatan literasi kerap difokuskan pada aspek yang bersifat struktural, seperti peningkatan fasilitas perpustakaan, penambahan koleksi buku, serta pengukuran melalui berbagai indikator kinerja. Pendekatan ini tentu memiliki peran penting dan tidak dapat diabaikan.

Akan tetapi, pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa keberadaan fasilitas belum tentu berbanding lurus dengan meningkatnya minat baca masyarakat. Dalam konteks ini, literasi tidak hanya dapat dipahami sebagai ketersediaan akses terhadap bahan bacaan, tetapi juga sebagai kebiasaan sosial yang tumbuh dari interaksi sehari-hari.

Dengan kata lain, tantangan utama literasi bukan semata pada penyediaan sarana, melainkan pada pembentukan budaya membaca.

Tantangan Implementasi di Lapangan

Beberapa inisiatif seperti perpustakaan keliling atau program layanan baca berbasis komunitas telah dilakukan sebagai bentuk pendekatan “jemput bola”. Langkah ini patut diapresiasi sebagai upaya mendekatkan layanan kepada masyarakat.

Namun demikian, efektivitasnya masih perlu terus dievaluasi. Dalam sejumlah kasus, tingkat pemanfaatan layanan tersebut belum optimal. Hal ini mengindikasikan bahwa pendekatan berbasis distribusi fasilitas saja belum cukup untuk mendorong perubahan perilaku membaca.

Dalam perspektif sosial, minat baca sangat dipengaruhi oleh:

  • Relevansi bahan bacaan dengan kehidupan masyarakat pendekatan komunikasi yang digunakan serta lingkungan sosial yang mendukung kebiasaan membaca
  • Tanpa memperhatikan aspek-aspek tersebut, program literasi berpotensi belum memberikan dampak yang signifikan.

Pentingnya Pendekatan Kultural

Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan penguatan pendekatan kultural dalam kebijakan literasi. Artinya, literasi perlu dihadirkan dalam ruang-ruang yang بالفعل menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Di banyak daerah, termasuk Aceh, ruang sosial seperti:

  • Tempat ibadah
  • Komunitas lokal
  • Dan ruang interaksi sehari-hari

memiliki pengaruh yang kuat dalam membentuk kebiasaan masyarakat.

Oleh karena itu, integrasi literasi ke dalam ruang-ruang tersebut dapat menjadi strategi yang lebih kontekstual dan berkelanjutan. Misalnya, melalui penguatan peran tokoh masyarakat, pengembangan konten bacaan yang relevan secara lokal, serta pendekatan komunikasi yang lebih persuasif.

Dari Program Menuju Gerakan Bersama

Rakornis menjadi momentum penting untuk tidak hanya memperkuat koordinasi program, tetapi juga mendorong transformasi pendekatan. Literasi perlu ditempatkan sebagai gerakan bersama, bukan sekadar agenda sektoral.

Hal ini menuntut kolaborasi lintas sektor, termasuk:

  • Dunia pendidikan
  • tokoh agama dan masyarakat
  • Komunitas literasi serta keluarga sebagai unit sosial terkecil

Dengan demikian, literasi tidak berhenti sebagai program tahunan, melainkan berkembang menjadi kebiasaan yang mengakar.

Upaya penguatan literasi merupakan investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia.

Rakornis Perpustakaan dan Kearsipan 2026 diharapkan dapat menjadi titik tolak untuk memperkuat arah kebijakan yang lebih adaptif terhadap realitas sosial.

Pada akhirnya, keberhasilan literasi tidak hanya diukur dari jumlah program yang dilaksanakan, tetapi dari sejauh mana masyarakat menjadikan membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Di situlah esensi literasi menemukan maknanya yang paling nyata.

Oleh: Ustadz Syamsul Kamal

LAINNYA