Sosok Jendral Andi Muhammad Jusuf Amier Dari Karir Hingga Kepeduliannya Terhadap Prajurit

waktu baca 8 menit
Rabu, 14 Jan 2026 22:51 redaksi

FRASALOCAL||OPINI- Mengenang Jendral Muhammad Jusuf masih sangat hangat dikalangan prajurit meski telah pergi 20 tahun yang lalu, kini mengenang 97 tahun, sang jendral yang memiliki nama asli Andi Muhammad Jusuf Amier dan nama kecil Andi Mo’mang merupakan seorang mantan petinggi TNI kelahiran Bone, Sulawesi Selatan pada 23 Juni 1928 silam.

Andi Muhammad jusuf merupakan keturunan bangsawan dari suku Bugis, kebangsawanannya dapat dikenali dari gelar “Andi”. Gelar-gelar ini sering dijelaskan dalam buku-buku dan tulisan mengenai antropologi penamaan dan budaya masyarakat setempat.

Foto: Jendral Andi Muhammad Jusuf Amier (foto dari Wikipedia).

Gelar bangsawan itu didapat dari ayahnya yang disebut-sebut merupakan Raja Kajuara bernama Arung Kajuara. Masa kecil Jenderal Andi Muhammad Jusuf berada di Kabupaten Bone, dimana sekolah dasarnya di Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Watampone, Bone.

Begitu beranjak dewasa, pada usia 17 tahun Jendral Andi Muhammad Jusuf bergabung dengan pemuda pejuang untuk mempertahankan Kemerdekaan Indonesia dari serangan Belanda, pada akhir tahun 1945 Masehi Jendral pun berlayar ke Pulau Jawa menggunakan kapal Pinisi dari Makassar.

Di pulau Jawa Jendral Andi Muhammad Jusuf ditampung oleh Kahar Muzakkar yang tergabung dalam organisasi Kebangkitan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS).

Dari sinilah karier militer seorang Jendral Andi Muhammad Jusuf menjadi ajudan Letkol Kahar Muzakkar di Staf Komando Markas Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) Pangkalan X di Yogyakarta.

Pada bulan Desember 1949, Jendral Andi Muhammad Jusuf, menjadi Kapten dalam Corps Polisi (CPM) kemudian melanjutkan menjadi anggota Staf Komisi Militer untuk Indonesia Timur sampai 1950.

Kemudian pada bulan April 1950, M Jusuf menjadi Panglima TT-VII/TTIT Kolonel Alex Kawilarang, lalu menjabat Kepala Staf Resimen Infanteri RI-24 di Manado pada 1953-1954.

Di waktu yang bersamaan, Jendral Andi Muhammad Jusuf meningkatkan kemampuan dengan mengambil Kursus Atase Militer Sekolah Staf dan Komando AD (SSKAD) pada 1952-1953. Kemudian pada 1955-1956, Jenderal M Jusuf mengambil Kursus Lintas Udara/Airborne Course di Amerika Serikat, dan Kursus Singkat Khusus Angkatan IV. Setelah itu, dia menjabat Asisten II (Operasi) TT-VII/TTIT di Makassar tahun 1955-1956.

Kemudian di tahun 1957, Jendral Andi Muhammad Jusuf menandatangani naskah Piagam Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) yang merupakan hasil gerakan militer di Indonesia. Pada Oktober 1956, dia memangku jabatan kepala Komando Reserve Umum (KRU) dengan pangkat Mayor dan Kepala Staf Resimen Hasanuddin di Parepare Sulsel. Kemudian pada Februari 1958, M Jusuf pun mencapai pangkat Letkol.

Tidak sampai di situ, M Jusuf lalu dipercaya mengemban tugas sebagai kepala Staf Komando Daerah Militer Sulawesi Selatan dan Tenggara (KDMMST) pada 1959.

Di tahun yang sama, Jendral Andi Muhammad Jusuf menjabat Panglima KDMMST pada bulan Oktober. Sampai pada tahun 1960, pria suku Bugis ini sampai pada pangkat Kolonel. Dirinya pun memegang tongkat Komando Panglima Kodam XIV/Hasanuddin di Makassar sampai 1964, mulai tahun 1964, karier sipil Jendral Andi Muhammad Jusuf pun dimulai.

Meski begitu, pada 1969 dia sempat menempuh pendidikan militer di Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Darat (Seskoad). Usai menjalani karier di bidang militer cukup lama, pemimpin negara yang menjabat saat itu yakni Presiden Soekarno menunjuk Jenderal M Jusuf sebagai Menteri Industri Ringan di Kabinet Dwikora.

Saat mengemban jabatan inilah, Jenderal M Jusuf terlibat kontroversi seputar Supersemar, jabatan itu di embannya dari 27 Agustus 1964-21 Februari 1966. Pada 24 Februari sampai 28 Maret 1966, Jendral Andi Muhammad Jusuf memangku jabatan sebagai Menteri Perindustrian Dasar di Kabinet Dwikora II.

Selanjutnya, dia menjadi Menteri Perindustrian Dasar di Kabinet Dwikora III pada 28 Maret 1966-25 Juli 1966. Setelah itu, menjadi Menteri Perindustrian Dasar & Menengah di Kabinet Ampera I pada 25 Juli 1966-17 Oktober 1967.

Jenderal M Jusuf kemudian menjabat sebagai Menteri Perindustrian dua periode berturut-turut di Kabinet Pembangunan pada 6 Juni 1968 hingga 28 Maret 1973. Posisi yang sama kembali dipimpin pada 28 Maret 1973-28 Maret 1978.

Terakhir, dia dipercaya menduduki posisi Ketua Badan Pemeriksa Keuangan pada 1983-1988 dan 1988-1993. Jabatannya di pemerintahan membuat Jendral Andi Muhammad Jusuf tidak aktif sebagai seorang perwira. Kurang lebih 12 tahun lamanya, Jusuf tidak menggunakan seragam tentara.

Akan tetapi, begitu turun dari jabatannya sebagai Menteri Perindustrian Jendral Andi Muhammad Jusuf justru ditunjuk sebagai Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Sebagian orang merasa, penunjukannya tersebut sangat janggal. Meski begitu, Jenderal M Jusuf tetap menerima jabatan tersebut dan diangkat pada 29 Maret 1978.

Jabatan itu diemban dengan merangkap sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan, selama memangku jabatan inilah merupakan puncak kepemimpinan atau karier militer seorang Jendral Andi Muhammad Jusuf. Selama menjabat, sosok dikenang sebagai pemimpin yang menaruh perhatian besar akan kesejahteraan prajuritnya.

Usai jabatannya sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan berakhir, Jendral Andi Muhammad Jusuf tidak lagi aktif di militer maupun pemerintahan. Dia berhijrah ke Makassar, kemudian mengembuskan napas terakhirnya pada 8 September 2004 pukul 21.35 Wita di usia 76 tahun karena penyakit yang sudah lama dideritanya.

FOTO: Rendi Umbara, SH, MH, Penulis Opini (Alumni Sekolah Tinggi Hukum Militer).

Menurut Rendi Umbara, SH, MH, yang merupakan Sarjana Hukum Militer, Jendral Andi Muhammad Jusuf sebagai salah seorang tokoh militer Indonesia yang sangat berpengaruh dalam sejarah kemiliteran. Prinsip Hidup Jendral Andi Muhammad Jusuf yang penuh dengan tugas dan amanah yang diberikan negara kepadanya, semua itu, bisa dijalankannya dengan baik karena prinsip hidup yang dipegang.

Jendral Andi Muhammad Jusuf bisa diteladani untuk mengikuti jejaknya, beberapa di antara prinsipnya itu diambil dari nilai-nilai suku Bugis yang didapatkan dari tanah kelahirannya di Sulsel.

Pribadi yang Jujur, sosok Jendral Andi Muhammad Jusuf, selalu mengutamakan kejujuran dalam kehidupannya sehari-hari. Prinsip hidup ini didasarkan pada nilai-nilai suku Bugis yang dipahaminya bahwa pemimpin yang berwibawa harus memimpin dengan watak malempu (jujur atau lurus).

Jendral Andi Muhammad Jusuf percaya seorang pemimpin harus mengutamakan kejujuran, sebab pemimpin yang tidak jujur tidak mungkin bisa berwibawa. Seorang yang jujur dapat disebut ‘bersih’ sehingga bebas mengambil keputusan.

Jendral Andi Muhammad Jusuf penuh Kesederhanaan Kejujuran berbanding lurus dengan kesederhanaannya. Selama menjadi petinggi publik mulai awal sampai akhir jabatannya, kehidupan beliau tidak pernah berubah, beliau jauh dari aksesoris-aksesoris yang hanya memberikan kenikmatan sesaat.

Rendah Hati Ketika mencari tahu tentang Jendral Andi Muhammad Jusuf, tidak ada banyak tulisan yang menggambarkan sosoknya dengan sepenuhnya. Hal ini dikarenakan, beliau sendiri selalu menolak untuk ditulis.

Jendral Andi Muhammad Jusuf tidak suka mengumbar-umbar cerita kepada publik bahkan disebut pelit mengungkapkan sesuatu, adalun sikapnya yang tertutup itu, semata-mata karena ingin menutupi wilayah kelabu dalam hidupnya karena tidak ingin merepotkan orang lain.

Beliau tidak menikmati kehebohan terlebih lagi jika melibatkan orang lain untuk bersenang-senang di atas penderitaan mereka. Oleh karenanya, banyak kejadian yang melibatkan dirinya tidak begitu terungkap.

Kehidupan Jendral Andi Muhammad Jusuf juga tertutup karena tidak ingin mencederai orang lain dan keluarganya. Misalnya karena kejadiannya di masa lalu, orang-orang yang dendam bisa saja merusak orang terkait masalah itu atau bahkan keluarganya sendiri.

Prinsip hidup ini disebut Jendral Andi Muhammad Jusuf dalam bahasa Bugis sebagai “ampe’)”, artinya adalah watak atau etika. Prinsip ini dipegang Jendral Andi Muhammad Jusuf sepanjang hidupnya.

Berdasarkan prinsipnya itu, dia diketahui sebagai orang yang rendah hati. Bahkan, gelar bangsawannya yakni “Andi” yang tercantum pada namanya itu dilepas pada 1957 dan tidak pernah digunakan lagi.

Sang Jendral dikenal sangat dermawan bahkan disebut tidak tahu nilai beliau membangun Rumah Sakit Akademis (RSA) Jaury Ujung Pandang. Rumah sakit ini dibangun untuk mengenang putra tunggalnya yang meninggal bernama Jaury Jusuf Putra.

RSA Jaury dimanfaatkan sebagai rumah akademis bagi mahasiswa Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas). Jendral Andi Muhammad Jusuf dikenang sebagai tokoh nasional yang menginspirasi dengan karier dan kepemimpinannya. Mengenang sosok Jenderal M Jusuf sebagai sosok yang menjadi bagian dalam perjalanan besar bangsa Indonesia.

Sosok Jendral Andi Muhammad Jusuf telah menggambarkan sikap-sikap yang dapat diteladani oleh masyarakat Indonesia. ada tiga keteladanan yang bisa dipetik dari sikap Jenderal tersebut. Seperti dekat dengan Prajurit memori Jendral Andi Muhammad Jusuf memberikan perhatian dengan menyediakan susu dan kacang hijau. Perhatian sederhana itu, dapat membuat prajurit-prajurit tersenyum lebar usai melakukan kegiatan fisik yang berat.

Jendral Andi Muhammad Jusuf senantiasa menyejahterakan prajuritnya dengan kasih sayang, perhatian, dan kedekatan dengan anggotanya. Semua bentuk kasih sayang itu ditunjukkan saat Jenderal M Jusuf menjadi Panglima ABRI. Beliau adalah Negarawan Sejati beliau banyak mengatasi masalah ikatan identitas kesukuan dan kedaerahan.

Meskipun, Jendral dikenal sangat cinta sukunya yakni Bugis, tetapi M Jusuf tetap merangkul semua suku dan daerah sebagai tokoh nasional. Salah satu keistimewaan Jendral Andi Muhammad Jusuf yang unik adalah integritas dan komitmennya terhadap bangsa dan negara.

Ia dikenal sebagai sosok yang jujur dan berprinsip, selalu menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi atau kelompok,

Kejadian saat peristiwa DI/TII di Sulsel, Jendral Andi Muhammad Jusuf bersikeras ingin menjadi panglima di pasukan tersebut padahal sudah diturunkan prajurit dari Jawa. Alasan perlakuannya itu karena Jenderal Jendral Andi Muhammad Jusuf tidak ingin masyarakat Bugis malu karena dikalahkan oleh orang Jawa.

Maka dari itu, dia harus bertindak sebagai panglima agar masyarakat suku Bugis bukan dikalahkan oleh orang Jawa meskipun prajuritn Jendral Andi Muhammad Jusuf Amier melakukan itu agar masyarakat Bugis bebas dari tekanan psikologis.

“Tidak, saya tidak mau kalian nanti di belakangan hari, ada suatu sejarah mengatakan minta maaf ini orang Jawa mengalahkan orang Bugis, tidak. Walaupun semua tentaranya berasal dari Jawa, panglimanya orang Bugis. Dan nanti di belakang hari sejarah mengatakan Jenderal Yusuf yang mengalahkan Kahar. Jadi kita bebas daripada tekanan psikologis,”ucap Jendral Andi Muhammad Jusuf, yang ditemukan dalam salah satu buku pada saat Rendi Umbara mengemban ilmu di sekolah militer.

Di ketenaran jabatan tertinggi yang pernah diemban Jendral Andi Muhammad Jusuf adalah Pangdam Hasanudin dengan pangkat Brigadir Jenderal.

Setelah berhasil menumpas pemberontakan Kahar Muzakkar pada 1965. Jenderal M Jusuf pernah memimpin pasukan untuk menumpas pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Pada pemberontakan itu, pembentuk DI/TII Abdul Kahar Muzakkar tewas terbunuh dengan misterius. Pasca Gerakan 30 September 1965, Jusuf bersama Jenderal Basuki Rahmat dan Jenderal Amir Machmud mendatangi Sukarno dan mendesaknya untuk mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).

Surat itulah yang menjadi legitimasi Soeharto menggantikan Sukarno. Setelah 13 tahun berkiprah di jabatan sipil, pada 1978 Soeharto mengangkat Jendral Andi Muhammad Jusuf sebagai Menhankam/Pangab.

Penulis: Rendi Umbara, SH, MH

Editor. : Redaktur Frasalocal

LAINNYA