
FRASALOCAL||SIMEULUE – Cut Yuli Irada, Duta Bahasa Provinsi Aceh, menyatakan keprihatinannya mendalam terhadap kondisi bahasa daerah di Kabupaten Simeulue yang semakin terancam, khususnya Bahasa Leukon yang disebutnya hampir tidak lagi digunakan. Hal ini disampaikannya dalam sebuah wawancara pada Senin, (28/7/2025)
Menurut Cut Yuli, Simeulue memiliki empat bahasa lokal yang dikenal: Devayan, Sigulai, Simolol, dan Leukon. Dari keempatnya, Bahasa Leukon dinilai paling rentan punah karena penuturnya sangat terbatas dan tidak lagi diwariskan kepada generasi muda.
“Bahasa Leukon hanya digunakan oleh sebagian kecil masyarakat lanjut usia, dan banyak anak-anak sudah tidak memahami lagi bahasa ini dalam percakapan sehari-hari,” ujarnya.
Ia menjelaskan, meskipun Bahasa Devayan dan Sigulai masih dipakai di beberapa daerah, keduanya mulai tergerus oleh perkembangan teknologi dan pengaruh kuat bahasa nasional. Namun, Bahasa Simolol menunjukkan secercah harapan untuk kembali dikembangkan.

“Peluncuran Kamus Bahasa Simolol pada 24 Mei 2025 menjadi langkah penting yang patut diapresiasi. Kamus ini bukan sekadar sarana pencatatan, tetapi juga wujud kesadaran bersama untuk melestarikan warisan bahasa lokal,” kata Cut Yuli.
Ia menegaskan, hilangnya bahasa daerah merupakan ancaman serius terhadap kekayaan budaya. Baginya, menjaga bahasa ibu bukan hanya tentang mempertahankan alat komunikasi, tetapi juga merawat identitas, nilai-nilai, dan jejak sejarah suatu masyarakat.